Warren Buffett Buka Suara soal Dedolarisasi, Beri Warning

FILE PHOTO: Warren Buffett, CEO of Berkshire Hathaway Inc, pauses while playing bridge as part of the company annual meeting weekend in Omaha, Nebraska U.S. May 6, 2018. REUTERS/Rick Wilking/File Photo

– Investor ternama Amerika Serikat (AS) Warren Buffett kini buka suara soal dedolarisasi. Menurutnya dolar AS tidak berisiko kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia.

“Kita (dolar AS) adalah mata uang cadangan,” kata investor terkenal dan CEO Berkshire Hathaway selama pertemuan tahunan perusahaannya, akhir pekan waktu AS.

“Saya tidak melihat opsi untuk mata uang lain untuk menjadi mata uang cadangan,” ujarnya lagi dikutip dari¬†Business Insider, Senin (8/5/2023).

Namun ia memberi peringatan. Ini terkait pengeluaran agresif pemerintah Amerika.

Ia me-warning pemerintah AS agar tidak mengikis nilai dolar dengan membelanjakan terlalu banyak dan memicu inflasi. Itu, tegasnya, menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan.

“Kita harus sangat berhati-hati,” kata Buffett.

“Sangat sulit untuk melihat bagaimana Anda pulih begitu Anda membiarkan jin keluar dari botol dan orang-orang kehilangan kepercayaan pada mata uangnya,” lanjutnya.

Menurut Buffett orang harus percaya bahwa tabungan mereka akan mempertahankan sebagian besar daya beli mereka dari waktu ke waktu. Bila tidak, mereka akan menghindar dari menyimpan uang mereka di bank atau membangun dana pensiun.

“Adalah kegilaan untuk terus mencetak uang,” kata mitra bisnis investor, Charlie Munger itu, seraya menambahkan bahwa AS seharusnya tidak mengambil risiko hasil yang berbahaya dengan membelanjakan terlalu banyak.

Sebelumnya, pandemi Covid-19 memicu penguncian, penutupan, dan gangguan rantai pasokan yang meluas pada tahun 2020 dan 2021. Pemerintah AS bergegas untuk menopang ekonomi dengan mengirimkan cek stimulus ke rumah tangga dan memberikan bantuan keuangan kepada bisnis.

Permintaan yang dihasilkan, ditambah dengan guncangan pasokan, termasuk invasi Rusia ke Ukraina, mendorong inflasi AS ke level tertinggi 40 tahun sebesar 9,1% musim panas lalu. Sebagai tanggapan, bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga dari hampir nol menjadi lebih dari 5% dalam 14 bulan terakhir saja.

Lonjakan suku bunga telah menekan konsumen dan bisnis, memicu kekhawatiran akan kegagalan bank lebih lanjut dan krisis kredit. Ini pun memicu kekhawatiran akan resesi akhir tahun ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*