Optimis Amerika Tidak Akan Gagal Bayar, Wall Street Bergairah

Traders work on the floor of the New York Stock Exchange shortly after the opening bell in New York, U.S., July 23, 2018.  REUTERS/Lucas Jackson

Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup bergairah pada perdagangan Rabu (17/5/2023), karena investor berharap para pemimpin kongres dan Presiden Joe Biden dapat mencapai kesepakatan tentang plafon utang AS dan menghindari gagal bayar (default).

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melonjak 1,24% ke posisi 33.420,77, S&P 500 melesat 1,19% ke 4.158,77, dan Nasdaq Composite melompat 1,28% menjadi 12.500,57.

Di akhir pertemuan antara presiden dan pemimpin kongres kemarin, Ketua DPR AS Kevin McCarthy mengatakan https://evolutionoforganic.com/ bahwa “proses yang lebih baik” sekarang tersedia untuk pembicaraan lebih lanjut, dengan mengatakan “kemungkinan untuk mendapatkan kesepakatan pada akhir minggu.”

Gedung Putih mengatakan bahwa Biden membatalkan putaran kedua perjalanan internasional yang akan datang untuk fokus pada negosiasi terkait plafon utang.

“Saya pikir pada akhirnya kami tidak akan mengalami default. Saya pikir kami akhirnya membuat presiden setuju untuk bernegosiasi,” kata McCarthy, dikutip dari CNBC International.

Pada Rabu pagi waktu setempat, Biden mengatakan dari Gedung Putih bahwa dia dan anggota parlemen lainnya telah mengadakan pertemuan “produktif”.

“Saya yakin kita akan mendapatkan kesepakatan tentang anggaran dan Amerika tidak akan gagal bayar,” kata Biden.

Kekhawatiran atas potensi default telah membebani pasar dalam beberapa hari terakhir. Dow Jones sepanjang bulan ini ambles 2%, termasuk koreksi hingga 1% pada Selasa lalu.

Sebelumnya pada Senin lalu, Menteri Keuangan AS Janet Yellen kembali menegaskan bahwa negara itu akan gagal bayar. Ia menyebut kekacauan akan terjadi.

“Dengan informasi tambahan yang sekarang tersedia, saya menulis untuk dicatat bahwa kita masih memperkirakan, bahwa Departemen Keuangan kemungkinan tidak akan lagi dapat memenuhi semua kewajiban pemerintah jika Kongres tidak bertindak untuk menaikkan atau menangguhkan batas utang pada awal Juni dan potensinya paling cepat 1 Juni,” tegasnya dalam surat terbarunya dikutip CNBC International.

Surat baru itu juga datang hanya beberapa hari setelah panduan dari Kantor Anggaran Kongres (CBO) mengatakan pendapatan pajak dan tindakan darurat setelah 15 Juni akan memungkinkan pemerintah untuk melanjutkan operasi pembiayaan. Itu setidaknya akan berlaku hingga akhir Juli.

Mengutip CNN International, memang sejumlah dampak akan terjadi jika AS default. Mulai dari mandeknya pembayaran jaminan sosial, rata-rata US$ 1.827 (Rp 26,8 juta) hingga tunjangan 2 juta pegawai federal dan 1,4 veteran (anggota militer tidak aktif) senilai miliaran dolar.

Ini juga akan berdampak ke biaya pinjaman. Jika terjadi default, imbal hasil (yield) Treasury AS pasti akan naik untuk mengkompensasi peningkatan risiko bahwa pemegang obligasi tidak akan menerima uang yang mereka pinjam dari pemerintah.

Karena suku bunga pinjaman, kartu kredit, dan hipotek sering didasarkan pada yield Treasury, biaya pinjaman uang dan pelunasan utang akan meningkat. Jumlahnya di atas peningkatan biaya yang sudah dihadapi orang Amerika dari kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Di lain sisi, saham-saham perbankan di AS rebound, di mana saham Western Alliance memimpin kenaikan di antara bank-bank regional, di tengah optimisme tentang potensi terobosan dalam kebuntuan di Washington atas batas utang negara.

Saham Western Alliance melonjak 10,19%, karena pertumbuhan simpanan pemberi pinjaman melebihi US$2 miliar dan pialang dari Bank of America Global Research.

Sedangkan saham bank regional AS lainnya seperti PacWest Bancorp, Comerica Inc, dan Zions Bancorporation juga naik di atas 7%.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*