Isu Merger Makin Kuat, Saham 4 BUMN Karya Ini Menguat

PP Presisi

– Saham emiten konstruksi BUMN Karya dan anak usahanya terpantau beragam cenderung mendatar pada perdagangan sesi I Senin (8/5/2023).

Dari sepuluh saham BUMN Karya, empat saham diantaranya terpantau menguat, empat saham cenderung stagnan, satu saham terkoreksi, dan satu bahkan terkena suspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berikut pergerakan emiten konstruksi BUMN Karya dan anak usahanya pada perdagangan sesi I hari ini.

Saham Kode Saham Harga Terakhir Perubahan
PP Presisi PPRE 113 0,89%
PP (Persero) PTPP 580 0,87%
Wijaya Karya Bangunan Gedung WEGE 130 0,78%
Adhi Karya (Persero) ADHI 394 0,51%
Wijaya Karya Beton WTON 160 0,00%
PP Properti PPRO 50 0,00%
Adhi Commuter Properit ADCP 60 0,00%
Waskita Beton Precast WSBP 50 0,00%
Wijaya Karya (Persero) WIKA 520 -2,80%

Sumber: RTI

Hingga pukul 09:45 WIB, saham PT PP Presisi Tbk (PPRE) menjadi yang paling besar penguatannya pada pagi hari ini, yakni melesat 0,89% ke posisi Rp 113/saham.

Namun, untuk saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) terpantau masih ambles 2,8% menjadi Rp 520/saham.

Sementara untuk saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) terpantau terkena kembali suspensi oleh BEI pada pagi hari ini.

Suspensi WSKT diberlakukan mulai pagi hari ini setelah pada Jumat pekan lalu perseroan mengaku tidak dapat melakukan penyetoran dana kepada Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sehubungan dengan jatuh tempo pembayaran bunga obligasi ke-11 pada 6 Mei 2023.

Waskita juga dirumorkan akan dilebur ke emiten BUMN Karya lain dan tidak menjadi surviving entity di tengah isu merger yang mencuat akhir-akhir ini.

Seiring rumor yang beredar tersebut, kinerja Waskita Karya memang paling buruk dibandingkan emiten BUMN Karya lainnya, seperti PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP).

Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serius akan melakukan pembenahan pada perusaahaan pelat merah yang memiliki kinerja buruk, termasuk disektor karya.

Menteri BUMN, Erick Thohir memastikan perusahaan BUMN di sektor infrastruktur dan karya akan dilakukan konsolidasi.

Erick mengungkapkan, terkait proses konsolidasi tersebut akan dibagi menjadi dua segmen, yakni perusahaan BUMN karya dengan skala kecil diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) dan Danareksa untuk dilakukan merger.

“Konsolidasi karya dipastikan akan terjadi, yang mana belum jadi keputusan. Tapi framework sepertinya yang ada di PPA Danareksa karena yang kecil-kecil, di merger,” kata Erick di Kantornya, Rabu (3/5).

Sementara, untuk perusahaan dengan skala besar seperti Hutama Karya (HK), WSKT, PTPP, WIKA, hingga ADHI masih dalam proses pengkajian.

“Sistemnya kepemilikan seperti HK dan Waskita, seperti Bank Mandiri punya BSI padahal di bawahnya merger, tapi keputusan ini belum terjadi,” jelasnya.

Erick mengungkapkan, proses konsolidasi akan disesuaikan dengan cetak biru (blueprint) dua tahun lalu yang diterbitkan Boston Consulting Group (BCG). Laporan tersebut telah merekomendasikan cukup ada empat BUMN karya yang memiliki segmentasi berbeda sesuai dengan keahlian.

“Sebaiknya BUMN karya dari sembilan BUMN menjadi empat BUMN. Ada ekspertis di gedung dan lain-lain, jadi tidak semua atau palugada,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*